Langkah kakiku melaju ke arah Kuta Square. Tiba - tiba ada rasa takut menyerang. Teringat kejadian pemboman bali 2 di tahun 2005. Aku membayangkan bagaimana kira - kira situasi di saat pemboman itu terjadi. Tibalah aku di depan resto and cafe R.A.J.A.S. Terlihat sisa – sisa pengemboman pada tempat ini. Walau masih berdiri tegak, namun terlihat pada lantai satu dan dua sudah menghitam terlalap api. Sejenak aku terdiam di depan café ini. Terucap doa semoga arwah manusia yang menjadi korban dapat diterima oleh Allah SWT. Entah apa yang ada di pikiran para teroris itu. Yang jelas tidak ada satupun agama yang mengkultuskan tindakan pembunuhan ini.
Kulangkahkan kaki menuju pantai kuta. Di sinilah baterai handphoneku mulai menipis sementara charger telepon tidak termasuk dalam barang – barang yang dimasukan oleh pembantuku. Ya beginilah jadinya, kalau pergi terburu dan orang yang dimintai tolong justru “lupa” memasukan barang – barang yang penting. Hmmm, never rely on someone over your important things!
Aku melewati pantai kuta. Sejenak duduk memandang pantai luas sambil menikmati terpaan angin yang membuat aku merasa bebas sebebasnya. Pekerjaan di kantor yang menumpuk, sedikit terlupakan. Matahari sudah sedikit menampakan diri, walau awan kelabu masih menggantung.
Sambil berjalan kaki, aku memasuki daerah poppies lane II. Angin yang semilir sejuk yang mengikuti sedari tadi, membuat perjalanan jadi tidak terlalu melelahkan. Aku melewati banyak toko – toko yang menjual souvenir ataupun barang – barang bercorak khas pantai yang sepertinya tidak terlalu ramai pengunjung. Ada yang menarik mataku. Namanya salon babi. Aku tidak berhasil mengetahui apakah salon ini khusus untuk babi atau untuk manusia. Hmm, handphone yang sudah minim baterai sengaja kumatikan. Sedikit menyesal sih, tidak mengambil gambar salon Babi ini. Yang jelas ada gambar hewan babi di atas tulisan Salon Babi. Jadi mestinya memang untuk babi yah? J
Berjalan menuju arah legian, kusempatkan mengambil foto di monumen peringatan bom bali 1. Sudah berapa kali kulihat monumen peringatan ini, tapi perasaanku tetap sama. Sedih. Beberapa pedagang di pulau ini yang mengandalkan dari pariwisata sudah tentu terkena imbasnya.
Kehidupan di pulau ini terasa hambar bagiku. Kesinisan akan masa depan tampak terlihat di beberapa tatap mata manusia pulau ini. Dewa yang kini dipuja tidak lagi hanya dewa – dewi agung, namun setumpuk uang kini turut menjadi dewa di pulau ini. Syahdan…
To be continued….