Priyanka menatap pintu itu. Ia berharap suatu waktu bayangan itu masuk kembali ke dalam ruangnya. Namun kelam, sepi dan kosong yang justru menemaninya. Tiba - tiba Priyanka teringat pada tanya Jahan pada sebuah malam
"Apakah kau merasakan yang aku rasakan?"..Priyanka tersenyum. Jahan menatapnya lekat - lekat, "Priyanka, untuk pertama kalinya selama 17 tahun, aku jatuh cinta lagi".
Priyanka lalu menggeleng sambil mengatakan, "Jahan, kau hanya ingin membalas dendammu pada Mumtaaz yang telah menghianatimu...
"Tidak Priyanka, aku benar - benar butuh dirimu, Aku seperti bertemu dengan kekasihku di masa lalu. Di masa jiwaku bersemayam dalam jasad orang lain" Bisik Jahan.
"Maksudmu?" tanya Priyanka
"Aku kekasihmu di kehidupanmu yang lalu" Jahan lalu mencium mata Priyanka.
Priyanka mengernyitkan keningnya. Jahan lalu menerangkan kembali, "Priyanka, ketika tanganku menggenggam tanganmu. Aku seperti merasakan sesuatu yang sudah sangat aku kenal. Rasa yang selama ini hanya pernah ada di mimpi - mimpiku, rasa yang sudah ada di dalam tubuhku namun tidak pernah dapat kurasakan sebelumnya"
Priyanka terdiam."Priyanka, maukah kau menemani ragaku kini?"
"Jahan, takdir tak mungkin terulang. Walau kau atau mungkin aku merasakan bahwa kita adalah masa lalu yang bertemu di masa kini, namun semua sudah bukan yang lalu. Aku milik Rajesh dan kau milik Mumtaaz"...
"Priyanka, kau...." Belum selesai Jahan menuntaskan kalimatnya, Priyanka lalu menggerakkan telunjuknya ke bibir Jahan, "Jahan, aku merasakan apa yang kau rasakan. Bayang samarmu selalu ada di setiap kerjapan mataku. Bahkan jauh sebelum aku tahu apa arti cinta. Tapi aku tidak akan mencuri kebahagiaanmu"
"Priyanka sayang. Tidak akan ada kebahagiaanku yang tercuri. Karena kebahagiaanku adalah denganmu" Jahan lalu menjatuhkan Priyanka dalam pelukannya. Mereka berdua menumpahkan semua kerinduan yang telah lama menyelimuti malam - malam sepi, pagi - pagi yang dingin dan kehampaan kehampaan waktu.
Matahari menjemput pagi, menyapu wajah bahagia dua manusia yang masih terlelap. Perlahan Priyanka membuka matanya. Dihirupnya udara kebahagiaan. Ia lalu bersiap - siap untuk bangkit, namun tangan Jahan menahannya. "Priyanka, jangan tinggalkan aku.." Priyanka tiba - tiba tersadarkan. Semalam ia tidur bukan dengan Rajesh melainkan dengan Jahan. Sejenak Priyanka tercekat. Dalam hati Ia membatin, "Aku telah berbuat dosa". Seperti tahu apa yang dipikirkan Priyanka, Jahan kembali mengeratkan pelukannya. "Priyanka, jangan katakan kau menyesal" "Tidak Jahan, aku tidak pernah menyesal. Aku bahagia. Namun ini akan menjadi malam pertama dan terakhir untuk cinta kita..cinta terlarang kita"
Jahan lalu bangkit dari tidurnya "Priyanka..." "Ya Jahan, aku tidak mungkin mengejar masa laluku"
Jahan lalu memeluk Priyanka "Priyanka tatap mataku, tidakkah kau merasa bahagia bertemu dengan aku dan menemukan cintamu yang hilang?"
Tiba - tiba bunyi alarm jam berbunyi. Priyanka bergegas hendak mematikannya sementara Jahan melihatnya dan bergumam "Hmm...sebegitu terlarangnya kah kita berdua, hingga alarm itu harus berbunyi untuk menghentikan kita?"
Priyanka lalu terduduk diam. Jahan memandang dan lalu menghampirinya. "Priyanka, jika memang kau bukan untukku, marilah berharap bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi. Di masa kini dan mendatang..."
"Kau bersungguh - sungguh mengatakan yang barusan?" Tanya Priyanka bingung
"Oh .,..Priyanka..Ya tentu saja tidak!"...Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk cinta kita dan jangan pernah mengatakan bahwa cinta ini terlarang..."
Priyanka membuang pandangannya ke arah jendela. Terlihat olehnya ombak yang sedang bercumbu dengan pasir dan terdengar nyanyian pohon - pohon kelapa tertiup angin. Hati Priyanka bergumul dengan logikanya. Sejenak bingung menyelimutinya. Jahan yang melihat bimbang di mata Priyanka, lalu menghampirinya.
"Priyanka, kalau memang kita tidak ditakdirkan untuk bersatu sekarang. Aku rela melepaskan ragaku untuk orang lain, namun jiwaku akan terus mengembara dan mencarimu di kehidupanku nanti. Jiwamu tidak mungkin bisa lepas dari jiwaku, karenanya aku akan bersabar hingga masa nanti menjemput dan jiwaku dapat bersatu denganmu"
"Jahan, berjanjilah untuk menjemput jiwaku.." pinta Priyanka.
Mereka lalu saling bertukar cinta melalui raga mereka. Pagi ini cinta mereka tumpah dan menggenangi mereka. Bisikan cinta Jahan pada Priyanka begitu indahnya. Ada sedih di setiap pelukan, ada tangis di setiap ciuman, ada haru di setiap tatapan, ada cinta di setiap pergumulan raga Jahan dan Priyanka. Hari itu menjadi hari terakhir untuk Jahan dan Priyanka. Esok atau mungkin malam itu, Priyanka dan Jahan akan melebur dalam hidup mereka "kini".
Matahari yang memerah menatap perpisahan Jahan dan Priyanka.
**
Priyanka terjaga dari lamunannya. Ia lalu membenarkan posisi duduknya. Di hadapannya Jahan sedang berbicara. Namun Jahan tidak hanya berbicara pada Priyanka melainkan pada sepuluh orang yang menghadiri meeting perluasan bisnis di perusahan tempat mereka berdua bekerja. Jahan dan Priyanka akhirnya bertemu kembali. Namun kilatan cinta tidak terbayang di antara mereka berdua.
Jauh di benak Priyanka ada satu keyakinan yang menguatkan cintanya pada Jahan, bahwa jiwa mereka mungkin tidak bertemu di masa kini, namun jiwa mereka akan terus mengembara dan mencari cinta sejati di kehidupan - kehidupan mereka nanti.