STOP!! STOP!!! Sudahi semua kesalahkaprahan ini!!!

Sudah cukup lama gue mendengar penggunaan kata "secara" secara tidak benar. Tidak benar?! Masa sih?!

Contoh:

"Duh vreda lama banget sih, secara gue udah nungguin dari tadi"

"Ayo dong bagi - bagi ceritanya, secara kita kan sahabatan"

"Wah elu pasti orang pertama yang beli tiketnya U2, secara elu kan fans berat gitu..."

Iklan radio: J CO kopinya enak banget, secara bahan - bahannya diimpor dari..bla - bla bla...

STOPPPP STOPPPP....

Coba perhatikan baik - baik contoh - contoh kalimat di atas. Bukankah itu merupakan sebuah kesalahan fatal? Itulah...itulah...kalau salah ketik mungkin gak masalah, kalau campur - campur bahasa inggris (ya sebenarnya sih gak bagus juga) ya masih bisa ditolerir, karena sebenarnya cuma mencari padanan kata yang sama pada bahasa inggris. Bahasa gaul menggantikan bahasa baku, hmm rasanya gak masalah asal berarti sama/sepadan.

Cuma ini masalah "sense" atau kepekaan bahasa kita. Menurut gue, sepertinya kata secara sudah menjadi PDA plus HANDPHONE plus IPOD plus GPS plus lain - lain. Karena berfungsi sebagai pengganti kata - kata : Apalagi, karena, mengingat, padahal..dan lain - lain..

Bahkan ....bahkan .....mbak Krisdayanti juga sempat menggunakan kata secara secara tidak benar dalam salah satu interviewnya dengan media infotainmen. Wah!! Gawat!!

Gue bukan polisi tata bahasa indonesia, gue juga dulu bukan kuliah di sastra Indonesia, tapi sepengetahuan gue, penggunaan kata - kata secara ini memang salah. Dari gue di bangku sekolah dasar sampai lulus kuliah, gue gak pernah diajarkan bahwa kata secara sebegitu perkasanya untuk menggantikan kata - kata lain.

Ini mungkin sama halnya dengan kata LUCU:

Contoh: "Ih bajunya lucu deh" --> emang bajunya ngelawak?" Atau "Ih mobilnya lucu deh" Waduh - waduh!!!Aduh Biyung!!!! Untuk kata yang satu ini (LUCU), gue sebenarnya sudah terkontaminasi banget. Gue sering menggantikan kata sifat lainnya dengan kata lucu ini. Tentunya gue gak mau terkontaminasi lagi dengan penggunaan kata "secara" yang salah. Sudah cukup kata lucu yang telah mengobrak - ngabrik sensor kepekaan gue akan bahasa negeri tercinta ini.

Duh bahasa Indonesiaku yang tercinta..betapa kini engkau semakin terpinggirkan. Engkau yang merupakah buluh perindu ketika bahasa lain menjajahku, kini semakin terinjak oleh kesombongan.

:) Aku cinta bangsa Indonesia, Aku cinta bahasa Indonesia

Oh ya untuk teman - teman setanah air,  silahkan pilih mana yang paling benar dari dua kalimat di bawah ini:

1) Tak kenal maka tak sayang! Itu sudah pasti. Jadi siapa lagi yang mau mencintai bahasa indonesia kalau bukan kita, secara kita adalah orang indonesia.

2) Tak kenal maka tak sayang! Itu sudah pasti. Jadi siapa lagi yang mau mencintai bahasa indonesia kalau bukan kita, mengingat kita adalah orang indonesia.


60 Comments
icamarica wrote on Feb 27, '06
wah... akika tinta tawar deh... emang tinta bolelebo ya pake kata secara begitu...
duuuuhhh... makarena dulu deh bow... lapangan bola niiihhhh.... udah lewat jam makarena siang nya... hihihihi
sossisag wrote on Feb 27, '06
plis deh (2003-an) inikan cuma fenomena sesaat, secara (2003-an) gue juga jarang make idiom yang satu ini dong ah (2000-an). meskipun ngga penting tapi inilah bahasa yang sedang populer di kalangan anak muda. kelak kalau dia sudah ngga musim pasti bakal dikenang lah ya (1990-an)...
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
plis deh (2003-an) inikan cuma fenomena sesaat, secara (2003-an) gue juga jarang make idiom yang satu ini dong ah (2000-an). meskipun ngga penting tapi inilah bahasa yang sedang populer di kalangan anak muda. kelak kalau dia sudah ngga musim pasti bakal dikenang lah ya (1990-an)...
Bagaimana kita tahu kalau ini akan sesaat lalu dikenang atau akan abadi lalu meresap ke dalam sensor kepekaan kita akan bahasa....SAH ELAAAAAAAAAAAAA..:))
sossisag wrote on Feb 27, '06
Bagaimana kita tahu kalau ini akan sesaat lalu dikenang atau akan abadi lalu meresap ke dalam sensor kepekaan kita akan bahasa....SAH ELAAAAAAAAAAAAA..:))
lah jeng... bahasa itu penanda sebuah era. kamu pernah ngalamin ngga yang namanya memble tapi kece (1985). memblenya ilang kecenya masih. lebih tua lagi pernah ada salome (1980) satu lobang rame-rame. saking populernya, kedua idiom barusan diadopsi jadi benda komersial. jaja miharja menyanyikan "memble aje", terus siapa yah pernanh nyanyi "salome". ya oloh, jadul pisan... tapi sumpah yang ngomong begitu biasanya anak muda...

terus beberapa idiom lain yang diangkat prambors di zaman si boy (1986-87). "kemane aje luh cing?", atau "it's oke?" jawabnya "it's dong...", atau bahasa bencongnya emon: "aduh dan..." semuanya 80's abislah...

balik ke era 2000-an deh. ambil contoh "30 hari mencari cinta". ada berapa kali nirina ngomong "ngga penting" di sana? atau "plis deh..." ntar kalau ilang pasti kamu kangen juga...

thetranquilizer wrote on Feb 27, '06, edited on Feb 27, '06
lah jeng... bahasa itu penanda sebuah era. kamu pernah ngalamin ngga yang namanya memble tapi kece (1985). memblenya ilang kecenya masih. lebih tua lagi pernah ada salome (1980) satu lobang rame-rame. saking populernya, kedua idiom barusan diadopsi jadi benda komersial. jaja miharja menyanyikan "memble aje", terus siapa yah pernanh nyanyi "salome". ya oloh, jadul pisan... tapi sumpah yang ngomong begitu biasanya anak muda...

terus beberapa idiom lain yang diangkat prambors di zaman si boy (1986-87). "kemane aje luh cing?", atau "it's oke?" jawabnya "it's dong...", atau bahasa bencongnya emon: "aduh dan..." semuanya 80's abislah...

balik ke era 2000-an deh. ambil contoh "30 hari mencari cinta". ada berapa kali nirina ngomong "ngga penting" di sana? atau "plis deh..." ntar kalau ilang pasti kamu kangen juga...
Jawaban akyu (2005) untuk tulisan mbaknya...:))
Cukilan dari tulisan saya:
kalau campur - campur bahasa inggris (ya sebenarnya sih gak bagus juga) ya masih bisa ditolerir, karena sebenarnya cuma mencari padanan kata yang sama pada bahasa inggris. Bahasa gaul menggantikan bahasa baku, hmm rasanya gak masalah asal berarti sama/sepadan.
Oh ya...mbak...Akyu gak bakalan kangen sama kata - kata "secara", mbak...piye yah...:)

Kece: kosa kata baru yang muncul atau diciptakan di era tahun 80 - an mempunyai arti sepadan dengan cantik.
Secara: kosa kata yang sudah ada di kamus besar bahasa indonesia, bukan kosa kata yang baru muncul di tahun 2006. :))
Akhir kata, untuk yang masih suka menggunakan kata secara dengan cara masing - masing, monggo...
saya -yang tidak setuju - hanya bisa menulis di weblog saya ini...hihihihihihihi

sossisag wrote on Feb 27, '06
kalau campur - campur bahasa inggris (ya sebenarnya sih gak bagus juga)
eh jangan salah ya... bahasa asing yang dicampur dengan dialek lokal malah menghasilkan bahasa baru. bahasa prancis misalnya, di kawasan haiti dipakai oleh budak hitam afrika dengan dialek setempat jadi deh bahasa creole. kalau saya sih masih bisa ngerti bahasa prancisnya tapi kalau udah creole, wah nyerah deh...

jadi jangan bunuh potensi kreatif anak muda dengan melarang ini itu, let it flows aja deh. malah saya lagi nunggu apalagi yang bakal dirilis setelah omg pda...

ps:
pada zamannya stelan kaya roy martin (1970-an) itu disebut cross boy.
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
eh jangan salah ya... bahasa asing yang dicampur dengan dialek lokal malah menghasilkan bahasa baru. bahasa prancis misalnya, di kawasan haiti dipakai oleh budak hitam afrika dengan dialek setempat jadi deh bahasa creole. kalau saya sih masih bisa ngerti bahasa prancisnya tapi kalau udah creole, wah nyerah deh...

jadi jangan bunuh potensi kreatif anak muda dengan melarang ini itu, let it flows aja deh. malah saya lagi nunggu apalagi yang bakal dirilis setelah omg pda...

ps:
pada zamannya stelan kaya roy martin (1970-an) itu disebut cross boy.
Kalau bahasa inggris yang diindonesiakan, seperti yang saya bilang tadi - bagi saya gak apa - apa..ada kata - kata memble tapi kece gak masalah, cross boy atau bahasa indonesia yang sering diselipkan bahasa inggris -hmmm ya gak terlalu masalah..

tapi ini bukan masalah membunuh kreatifitas orang atau enggak. Saya juga kerja di bidang kreatif.:))

Bagi saya, sekali lagi...bagi saya...penggunaan kata "secara" secara tidak benar akhir - akhir ini sangat menggangu...So, kalau masih pengen pakai bahasa itu..monggo...
hihihihihihhi:)
Merdeka!!!!

menjadi wrote on Feb 27, '06, edited on Feb 27, '06
gue tau kenapa penggunaan kata ini mengganggu. Karena walaupun dia cuma mode, dia mengubah sintag sebuah kalimat (wait wait, sintag atau gramma ya? lo aja deh yang anak sastra vred yang jawab), soalnya, kata 'secara' punya arti yang lain, dan ini membuat orang yang butuh akurasi dalam komunikasi sebal. penulis, apalagi editor seperti vreda ini, pasti sebal banget. Taruhan brapa dia gak cuma berkeluh kesah di multiply tapi juga memberantas kata secara yang gak bener ini di naskah2 yang dia edit, hihihi...
Contoh lain pergeseran makna ini adalah kata 'kita' yang artinya udah menjadi 'kami'. Dan kayaknya emang gak bakalan lagi tuh kata 'kami' dipake dalam bahasa sehari2. Tapi kok itu buat gue gak se-mengganggu 'secara' ya, secara gue bisa langsung ngerti gitu arti 'kita' itu maksudnya 'kami'.
sossisag wrote on Feb 27, '06
Bagi saya, sekali lagi...bagi saya...penggunaan kata "secara" secara tidak benar akhir - akhir ini sangat menggangu.
ini sih fyi aja deh...

pernah dengar kata acuh? tau artinya apa? ternyata gara-gara salah pemakaiannya kata acuh melahirkan kata baru. acuh artinya perduli (care), tidak acuh berarti sebaliknya. nah, di bandung kalau orang menyuruh tidak perduli mereka akan bilang "acuh wae" jadinya disingkat "cuh we". lama-lama, karena sering diucapkan malah jadi "cuek"... dan jadi bahasa nasional?

can u see it?
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06, edited on Feb 27, '06
menjadi said
Contoh lain pergeseran makna ini adalah kata 'kita' yang artinya udah menjadi 'kami'. Dan kayaknya emang gak bakalan lagi tuh kata 'kami' dipake dalam bahasa sehari2. Tapi kok itu buat gue gak se-mengganggu 'secara' ya, secara gue bisa langsung ngerti gitu arti 'kita' itu maksudnya 'kami'.
Saya setuju dengan Anda bapak menjadi..heheheheh...
"Menjadi" pulanglah ke negeri tercinta kita ini.....kita bangun bersama - sama negeri ini. Tidakkah engkau rindu pada sawah yang menguning, gugusan pulau - pulau indah yang bertaburan manusia - manusia indonesia...heheheheeeeee....
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
ini sih fyi aja deh...

pernah dengar kata acuh? tau artinya apa? ternyata gara-gara salah pemakaiannya kata acuh melahirkan kata baru. acuh artinya perduli (care), tidak acuh berarti sebaliknya. nah, di bandung kalau orang menyuruh tidak perduli mereka akan bilang "acuh wae" jadinya disingkat "cuh we". lama-lama, karena sering diucapkan malah jadi "cuek"... dan jadi bahasa nasional?

can u see it?
what should i see? Does it have any relation with any of my objections?
apakah acuh berperan untuk menggantikan beberapa kosa kata?
Apakah cuek juga berperan untuk menggantikan beberapa kosa kata sekaligus? Seperti kata "secara" yang saya maksud - yang menggantikan kosa kata -contoh: apalagi, sedangkan, sementara, padahal, karena dan lain - lain-

That is totally different...

Can you see it?
Comment deleted at the request of the author.
sossisag wrote on Feb 27, '06
what should i see? Does it have any relation with any of my objections?
apakah acuh berperan untuk menggantikan beberapa kosa kata?
Apakah cuek juga berperan untuk menggantikan beberapa kosa kata sekaligus? Seperti kata "secara" yang saya maksud - yang menggantikan kosa kata -contoh: apalagi, sedangkan, sementara, padahal, karena dan lain - lain-

That is totally different...

Can you see it?
memang ngga ada hubungannya. dan memang sengaja tidak saya hubung-hubungkan...

poinnya adalah sebuah kreativitas kadangkala hadir dari pemakaian kata yang keliru baik sengaja ataupun tidak. acuh ketika dipakai secara keliru menimbulkan makna baru. pun dengan secara, pemakaiannya memang sengaja untuk dikelirukan. bisa jadi juga karena ketidaktahuan. tapi biarkanlah. ini hanya sebuah fenomena sesaat. nanti juga bakal hilang kok... musim-musiman aja.

ngomong-ngomong jarang-jarang saya pakai bahasa inggris seperti di atas. kepingin gaya aja.
anzarra wrote on Feb 27, '06
saya setuju. lebih baik kita tidak perlu menggunakan kata secara. karena itu diganti saja dengan kata 'semacam'. semacam saya juga butuh berbahasa, yes? :D
menjadi wrote on Feb 27, '06
pak/bu sossisag benar, di negara2 di dunia ini, bahasa memang bisa dibiarkan tumbuh dari bawah dan bisa juga ditentukan oleh 'rezim'. Dulu kayaknya ada lembaga pengembangan bahasa ya kalo gak salah, cmiiw, yang fungsinya memberi batasan dan menkoreksi, tapi sekarang fungsinya lebih ke mengarahkan, dan orang media yang akan menjadi pelaksananya.

tapi kayaknya keberatan bu tranquilizer adalah: kata 'secara' itu masih berlaku dalam bahasa formal maupun informal juga dengan arti yang udah spesifik, sehingga kemunculan arti baru ini akan membingungkan, karena akan ada dua arti untuk satu kata yang sama, padahal udah jelas kasus ini bukan kasus sinonim, tapi lebih ke pergeseran arti.

yah, gue juga pake kata secara secara serampangan sih, secara gue pikir nanti ilang sendiri. mudah2an.
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
anzarra said
saya setuju. lebih baik kita tidak perlu menggunakan kata secara. karena itu diganti saja dengan kata 'semacam'. semacam saya juga butuh berbahasa, yes? :D
ANNNNNNNN...pake aja...jangan malu - malu...tapi gunakan dengan baik dan benar..
Cihuyyyyyyyyyyy!!!
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
menjadi said
tapi kayaknya keberatan bu tranquilizer adalah: kata 'secara' itu masih berlaku dalam bahasa formal maupun informal juga dengan arti yang udah spesifik, sehingga kemunculan arti baru ini akan membingungkan, karena akan ada dua arti untuk satu kata yang sama, padahal udah jelas kasus ini bukan kasus sinonim, tapi lebih ke pergeseran arti.
TERIMA KASIH BAPAK MENJADI...TERIMA KASIH.....cup cup mwahhhh...:)
mryasha wrote on Feb 27, '06
penggunaan kata - kata secara ini memang salah. Dari gue di bangku sekolah dasar sampai lulus kuliah, gue gak pernah diajarkan bahwa kata secara sebegitu perkasanya untuk menggantikan kata - kata lain.
Tau ngga loh, secara tahun 2000 gue balik ke negeri ini, gue musti belajar bahasa "aneh" ini to blend in with all you people. Secara bahasa Indonesia gue ngga bener, baku pula.

Emangnya enak musti belajar bahasa baru hanya untuk bisa mengikuti rapat di kantor kita yang dulu itu. I can list so many words here that were used in our regular internal Monday meetings, that are not in the Kamus Bahasa Indonesia, or words used in for entirely different meanings. Emang enak!

Dan waktu penggunaan sisipan kata "secara" mulai marak, gue pun merasa harus mempelajari penggunaan kata itu, dan mengalami banyak trial dan error.

Lalu, bagaimana dengan Aku yang jadi AKYUU?

If you wanna shoot anybody for messing up our language, I suggest you start with the radio broadcasters ;>
erikar wrote on Feb 27, '06, edited on Feb 27, '06
Ah 'secara' kasus ini mah biasa-biasa aja. Fenomena yang umum terjadi dalam bahasa lisan. Justru hal 'beginian' ini malah memperkaya khazanah bahasa harian kita bukan? Di era 70'an kita kenal fenomena bahasa 'ong' sama bahasa preman, di 80'an ada bahasa balik, 90'an bahasa selip-selipan (in, eg) dan bahasa 'putus di tengah' (kemana = kmans) dan sekarang bahasa binan... Bergerak terus!

It's okay kalau gak setuju, 'secara' kita hidup di alam demokrasi bukan? Haha.. Tapi pemakaian ini juga lazimnya hanya ditemukan di bahasa informal sehari-hari, toh tidak dipergunakan di acara resmi kenegaraan, koran, ceramah resmi, materi kuliah atau hal-hal formal lainnya.

Secara dipakenya cumi-cumi (cuma dalam bahasa binan) untuk keperluan informal gicu lohh..
republic wrote on Feb 27, '06
cum'on...language is never fixed. it's temporarily constructed, always in flux. what seems to bother you is just a postmodern symptom. it's totally harmless. so dont take it seriously. just let it flow by itself as a product of cultural history.
immortal13 wrote on Feb 27, '06
penggunaan kata secara justru mempermudah pembicaraan (sangat komunikatif), karena kata "seharusnya" malah membuat pembicraan jadi sangat formal (kaku) dengan contoh kata : apalagi, karena, mengingat, padahal, sebagai kata "benarnya". ini karena yang dibicarakan anak muda memang hal - hal ringan, yang diperlukan adalah komunikatifnya, bukan bobot katanya, ini semua karena budaya instan yang sudah mendarah daging. budaya pop yang mengalir spontan, berubah sekena - kenanya untuk akhirnya menjadi trend. Masalahnya adalah usia, gw juga enek denger kata secara, karena mungkin ya usia gw. atau mungkin juga anak muda sekarang dengan otak kosongnya yang konsumtif terlalu sering menggunakan kata secara. heheh.. salut buat ibu tranquilizer yang berani mengkritik.. hohoho
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
mryasha said
Lalu, bagaimana dengan Aku yang jadi AKYUU?

If you wanna shoot anybody for messing up our language, I suggest you start with the radio broadcasters ;>
Yash, Kalau akyu dan aku, pergeseran maknanya tidak ada. Ini sih masalah pengucapan dan gaya bahasa. Yang menjadi kebingungan akyu adalah:
Kosa kata secara yang sejak dulu sudah ada, sekarang mengalami pergeseran makna.:)

Saran elu yang terakhir, itu bener bangettttt......benerrrrrrrrrrrrrr bangettttttttttttt
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
erikar said
Ah 'secara' kasus ini mah biasa-biasa aja. Fenomena yang umum terjadi dalam bahasa lisan. Justru hal 'beginian' ini malah memperkaya khazanah bahasa harian kita bukan? Di era 70'an kita kenal fenomena bahasa 'ong' sama bahasa preman, di 80'an ada bahasa balik, 90'an bahasa selip-selipan (in, eg) dan bahasa 'putus di tengah' (kemana = kmans) dan sekarang bahasa binan... Bergerak terus!

It's okay kalau gak setuju, 'secara' kita hidup di alam demokrasi bukan? Haha.. Tapi pemakaian ini juga lazimnya hanya ditemukan di bahasa informal sehari-hari, toh tidak dipergunakan di acara resmi kenegaraan, koran, ceramah resmi, materi kuliah atau hal-hal formal lainnya.

Secara dipakenya cumi-cumi (cuma dalam bahasa binan) untuk keperluan informal gicu lohh..
Memang sih biasa - biasa aja. Tapi pernah dengar gak? kalau sebuah perubahan "yang berpengaruh" dimulai dari bawah, dari biasa - biasa aja, dari hal - hal remeh remeh..So begitu juga dengan pergeseran makna dari kosa kata "secara" ini.

Oh ya, kalau radio - termasuk di dalamnya penyiar - itu termasuk informal? Karena radio adalah salah satu medium penyebaran "pergeseran makna" ini.
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
cum'on...language is never fixed. it's temporarily constructed, always in flux. what seems to bother you is just a postmodern symptom. it's totally harmless. so dont take it seriously. just let it flow by itself as a product of cultural history.
Language is never fixed? Wow...buat apa dibuat kamus yah? kalau penyebutannya diubah - ubah kayak aku jadi akyu sih kita masih bisa nangkep. Trus memble tapi kece, sosialisai kosa kata memble tapi kece juga cukup mengena di masyarakat. This is not a postmodern symptom. Well, actually i don't know that my definition of the words "Postmodern symptom" equals to your definition. ....Kan kata kamyu: Language is never fixed, toh?
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06, edited on Feb 27, '06
penggunaan kata secara justru mempermudah pembicaraan (sangat komunikatif), karena kata "seharusnya" malah membuat pembicraan jadi sangat formal (kaku) dengan contoh kata : apalagi, karena, mengingat, padahal, sebagai kata "benarnya". ini karena yang dibicarakan anak muda memang hal - hal ringan, yang diperlukan adalah komunikatifnya, bukan bobot katanya, ini semua karena budaya instan yang sudah mendarah daging. budaya pop yang mengalir spontan, berubah sekena - kenanya untuk akhirnya menjadi trend. Masalahnya adalah usia, gw juga enek denger kata secara, karena mungkin ya usia gw. atau mungkin juga anak muda sekarang dengan otak kosongnya yang konsumtif terlalu sering menggunakan kata secara. heheh.. salut buat ibu tranquilizer yang berani mengkritik.. hohoho
Gue juga dah tua sih...huhuhuhuhu...tapi young at heart (apaaaannn)...Tapi seingat gue, memang dari dulu "waktu remaja" gue memang senang melihat perkembangan bahasa, karena bagi gue intelektualitas seseorang dinilai dari tutur kata atau kata - kata yang terucap dari mulutnya. Gue jadi ingat dengan peribahasa "mulutmu adalah harimaumu"....:)
menjadi wrote on Feb 27, '06
huahahahaha... asik jadi rame.
bahasa itu bagian dari kebudayaan, dan kedua-duanya memang berkembang terus, makanya Vred kamus itu selalu keluar edisi baru setiap beberapa tahun sekali.
Tapi pertanyaan yang lebih asik adalah: di jaman sekarang ini siapakah yang paling punya kekuatan untuk melakukan perubahan? Yup, orang-orang media massa, dengan kekuatan kapital di baliknya, yang tujuannya terus membuat keuntungan atas pemirsa-penonton-pendengar-pembaca. Berhakkah anggota dari si massa menghimpun kekuatan kalau mereka menganggap perubahan yang datang dari atas itu merusak? boleh2 aja dong, asal kuat melawan arusnya. Jadi, Vred, selamat berjuang...! Saya bantu dari jauh... ;)
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
menjadi said
Berhakkah anggota dari si massa menghimpun kekuatan kalau mereka menganggap perubahan yang datang dari atas itu merusak? boleh2 aja dong, asal kuat melawan arusnya. Jadi, Vred, selamat berjuang...! Saya bantu dari jauh... ;)
Jelas berhak, pak menjadi...
Yang jelas saya bukan pro status quo dan tidak anti perubahan - termasuk di dalamnya adalah kosa kata baru yang menyepadani kosa kata baku -, Saya juga sering ngomong booooo, akyu, memble atau kosa kata yang sedang "in" di sebuah era. Cuma, hanya, cuma hanya cuma hanya....Saya memang agak bingung dan iba akan pergeseran makna yang diderita kosa kata "secara" hehehhehe...
Sekian dan Terima kasih...(sambil nyanyi "Revolusi ....Revolusi sampai mati....hehhehe)
republic wrote on Feb 27, '06, edited on Feb 27, '06
Well, actually i don't know that my definition of the words "Postmodern symptom" equals to your definition. ....Kan kata kamyu: Language is never fixed, toh?
so which side are you on, accepting or rejecting that it's never fixed..? :)

anyway, you sound to me like a functionalist. and like people say, functionalists tend to be authoritarian....hahahahaha. tapi gak papa toh, kita mungkin perlu polisi bahasa yang siap menghukum mereka yang menyalahgunakan bahasa. artinya, kamu sudah memasukkan bahasa dalam kotak es. iiiiiiihhhhhh....diiiiingin dan bekuuuu.....
bloomy wrote on Feb 27, '06
menjadi said
Contoh lain pergeseran makna ini adalah kata 'kita' yang artinya udah menjadi 'kami'. Dan kayaknya emang gak bakalan lagi tuh kata 'kami' dipake dalam bahasa sehari2. Tapi kok itu buat gue gak se-mengganggu 'secara' ya, secara gue bisa langsung ngerti gitu arti 'kita' itu maksudnya 'kami'.
Aduh, gue juga benciiii banget kalau ada yang mengubah kami jadi kita. Kalau ada artikel yang kayak gini, reporternya suka gue marahin. Udah jelas-jelas pengertiannya beda.
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06
so which side are you on, accepting or rejecting that it's never fixed..? :)

anyway, you sound to me like a functionalist. and like people say, functionalists tend to be authoritarian....hahahahaha. tapi gak papa toh, kita mungkin perlu polisi bahasa yang siap menghukum mereka yang menyalahgunakan bahasa. artinya, kamu sudah memasukkan bahasa dalam kotak es. iiiiiiihhhhhh....diiiiingin dan bekuuuu.....
Heheheh, gak papa deh dibilang functionalist...yang jelas saya bukan polisi bahasa dan tidak pernah punya niatan untuk memasukkan bahasa dalam kotak es. Setiap hari saya berenang dalam lautan kata - kata yang dirangkai indah oleh para manusia - manusia pengarang dan saya begitu menikmatinya. Karenanya saya tidak bermaksud menghukum siapapun atas penyalahgunaan kosa kata "secara" ini. Tulisan saya lebih mengarah ke "perenungan". Yah, lagi - lagi sebuah niat baik sudah tentu menuai tanggapan yang berbeda - beda dan saya sangat bersyukur teman - teman sudah berkenan mau menanggapi :)
republic wrote on Feb 27, '06
Tulisan saya lebih mengarah ke "perenungan". Y
perenungan kok pake kata "stop"...he he he
upppssss....malah gw yang sekarang fungsionalis.
thetranquilizer wrote on Feb 27, '06, edited on Feb 27, '06
perenungan kok pake kata "stop"...he he he
upppssss....malah gw yang sekarang fungsionalis.
Kenapa pakai stop?
Coba bayangkan: hampir tiap hari gue dengar kata - kata "secara" itu digunakan tidak benar (menurut gue). Dari radio sampai perbincangan tiap hari. So, gue berteriak STOPP!! ...dan mulai merenungi: apa yang terjadi yah?

Kalau kini menurut Anda kata - kata stop tidak mengacu kepada proses perenungan, sekarang saya balik bertanya "Apakah masih relevan tanggapan - tanggapan Anda ini pada keberatan saya atas penyalahgunaan kata "secara"? Jika tidak...hmmm..rasanya Anda sudah tahu apa yang mesti Anda lakukan selanjutnya...heheheheh:)...
sossisag wrote on Feb 27, '06
menjadi said
Dulu kayaknya ada lembaga pengembangan bahasa ya kalo gak salah, cmiiw, yang fungsinya memberi batasan dan menkoreksi, tapi sekarang fungsinya lebih ke mengarahkan, dan orang media yang akan menjadi pelaksananya.
kayanya sekarang sih masih ada. tapi efeknya kepada publik tidak segencar dulu. dulu institusi ini bisa berkembang karena dia "embedded" dengan stasiun tvri dan menjadi satu-satunya pilihan.

sekarang? alternatif media banyak nian. orang bisa belajar bahasa lewat apapun yang ada di hadapannya. tidak seperti di era 80-an yang hanya ada tvri, rri dan puluhan radio swasta.
sossisag wrote on Feb 28, '06
Language is never fixed? Wow...buat apa dibuat kamus yah?
sama seperti media, kamus bertugas sebagai pencatat. makanya selalu ada revisi untuk setiap edisi baru yang dikeluarkan. saya sendiri masih menggunakan kbbi edisi 1999, walaupun kamus indonesia-inggrisnya stevens-schmidgall tellings cetakan mizan lebih seksi, lebih banyak lema baru yang diadopsi dari bahasa anak muda, bahasa cina, inggris, arab...

kalau banyak kosa kata bahasa arab dianggap sebagai bagian dari bahasa indonesia mungkin kita masih bisa toleran, macam kader pks yang suka sekali ber-anta anti antum. bayangkan, kata miskol (miss called) dan cetiau (one million) yang sudah dianggap sebagai bagian dari khazanah bahasa indonesia.
thetranquilizer wrote on Feb 28, '06
sama seperti media, kamus bertugas sebagai pencatat. makanya selalu ada revisi untuk setiap edisi baru yang dikeluarkan.
Setuju!!! So sebelum kata "secara" -dengan sejuta pergeseran maknanya- disahkan, maka mana yang menjadi pegangan, apakah kamus atau perbincangan sehari - hari? Kalau saya pikir semua itu memang fleksibel saja penerapannya. Tapi yang menjadi kebingungan saya adalah makna kosa kata "secara" yang sekarang marak digunakan. Kalau misalnya kosa kata padahal diganti jadi pedehel (karena bahasa gaul), hmm mungkin saya masih bisa ngerti. Tapi kalau kosa kata secara?...

Lagi - lagi, tulisan saya hanya sebatas wacana saja. Tidak setuju ya tidak apa - apa, kalau setuju ya bagus... Setidaknya diskusi ini bisa jadi stimulan penting bagi saya (moga - moga yang lainnya juga) untuk lebih memaknai sebuah keadaan, ketimbang hanya mengikuti arus yang membawa kita "entah" ke rimba mana...
erikar wrote on Feb 28, '06
sebuah perubahan "yang berpengaruh" dimulai dari bawah, dari biasa - biasa aja, dari hal - hal remeh remeh..So begitu juga dengan pergeseran makna dari kosa kata "secara" ini.
Hehe, maybe kalau mau didramatisir..

Tapi saya yang hobi berat pake bahasa-bahasa berdasarkan trend itu, toh sama sekali gak keluar kalau lagi harus bicara dalam kesempatan formal. Mengajar misalnya.. (kecuali kalau mahasiswanya ngocol-ngocol semua) saya tetap mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan (agak-agak) benar.

Pergeseran? Ah, kembali lagi ke masalah trend, dulu tahun 80'an siapa yang gak tau dengan kata 'ngalup ek hamur' (pulang ke rumah) yang kondang saat 'asahab kilab' (bahasa balik) meraja-lela (Guru Bhs Ind saya di SMP sempet ngomel-ngomel berat karena kita rajin ngomong pake tehnik ini)

Nah kebetulan skrng, saya kenal beberapa rekan yang dulu juga rajin memakai bahasa itu dan kini sudah menjadi selebriti, pembicara publik atau bahkan pejabat negara. Sampai hari ini belum pernah saya dengar mereka mengeluarkan statement resmi dengan mempergunakan bahasa balik itu.

Haha.. Dan toh sampai hari ini kata baku 'Keluar' masih tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia, belum tercantum menjadi 'Raulek'.
thetranquilizer wrote on Feb 28, '06
erikar said
Pergeseran? Ah, kembali lagi ke masalah trend, dulu tahun 80'an siapa yang gak tau dengan kata 'ngalup ek hamur' (pulang ke rumah) yang kondang saat 'asahab kilab' (bahasa balik) meraja-lela (Guru Bhs Ind saya di SMP sempet ngomel-ngomel berat karena kita rajin ngomong pake tehnik ini)
Maaf, tulisan saya di atas bukan menyoal trend seperti yang mas sebutkan. Yang menjadi kebingungan saya dan "keresahan" saya adalah kosa kata "secara" yang kini telah (menurut saya) mengalami pergeseran makna.

Kalau contoh yang mas kasih misalnya:diucapkan: ngalur ek hamur kuy...trus lawan bicara kita balik bertanya: "ngomong apa sih luh?" trus kita kasih tahu dia, "sebenarnya kata - kata itu dibaca secara terbalik" Nah mungkin orang itu langsung "ngeh" dan mencobanya.

Lalu ceritanya mas kasih saya kata - kata seperti ini:
"Ule amal tengab his, araces ueg hadus talet hin!
Trus saya balik kata - kata tersebut: "Elu lama banget sih, secara gue sudah telat nih!"
Saya jadi bingung akan arti kalimat ini karena keberadaan kosa kata "secara" ini..hihihihihih
erikar wrote on Feb 28, '06
Hehe itu kan cuma metafora doang..


Sorry kalo kejauhan. Maksud saya, santai aja. Fenomena ini mah biasa banget, sebagai anak sok gaul yang udah mengalami 4 dekade pergeseran trend (huahaha bisa dikira tua gue). 'Secara' cuma satu contoh kecil saja, yang saya yakin setahun-dua tahun ke depan juga sudah gak terlalu populer dan dipakai lagi.

Inget kata 'berat' atau 'abis' ? Sering dipakai untuk mengganti kata 'banget' atau 'sangat'. Toh sampai hari ini kata 'berat' dan 'habis' tetap dipakai secara benar dan proposional di kesempatan yang dibutuhkan.


Haha tapi seru juga, you stand up right to what you're saying.. Way to go.
thetranquilizer wrote on Feb 28, '06
erikar said
Haha tapi seru juga, you stand up right to what you're saying.. Way to go.
Thank you...
thedyingsirens wrote on Mar 1, '06
gue cuma bisa bilang....gue bangga sama elo vred...elo bener2x anak sastra sejati!! hehehe
Comment deleted at the request of the author.
thetranquilizer wrote on Mar 1, '06
gue cuma bisa bilang....gue bangga sama elo vred...elo bener2x anak sastra sejati!! hehehe

maksud loh????hehehhehehe elu juga anak sastra sejati kok...booooooooooo
truewahid wrote on Mar 4, '06
Oh..udah di STOP yak? Padahal aku baru mo mulai...
thetranquilizer wrote on Mar 5, '06
Oh..udah di STOP yak? Padahal aku baru mo mulai...
Silahkan saja...berkomentar..heheheh
thedyingsirens wrote on Mar 6, '06
maksud loh????hehehhehehe elu juga anak sastra sejati kok...booooooooooo
maksudnya dikau mengamalkan nilai2x yang kau dapat di sastra..sementara saya tidak..hehehe
thetranquilizer wrote on Mar 6, '06
maksudnya dikau mengamalkan nilai2x yang kau dapat di sastra..sementara saya tidak..hehehe
Enggak juga sih Ga...justru pas mata kuliah bahasa indo, gue lebih seneng ngobrol atau gambar - gambar atau ngeliatin muka dosennya aja..hahahahha....Elu juga mengamalkan kok...Dengan menjadi "tukang kebun" yang selalu menyirami berkuntum - kuntum, bertangkai - tangkai bunga dengan puisimu yang semerbak....:) sah elaaaaaaaaaaaaaa
thedyingsirens wrote on Mar 6, '06
Enggak juga sih Ga...justru pas mata kuliah bahasa indo, gue lebih seneng ngobrol atau gambar - gambar atau ngeliatin muka dosennya aja..hahahahha....Elu juga mengamalkan kok...Dengan menjadi "tukang kebun" yang selalu menyirami berkuntum - kuntum, bertangkai - tangkai bunga dengan puisimu yang semerbak....:) sah elaaaaaaaaaaaaaa
aah kamu *tersipu malu*
tapi dalam berkebun di kebun kata itu kan gak selalu bahasa indonesia yang baik dan benar...bahkan ada jg yang menggunakan bahasa sehari2x...hehehe...vreda dah join belom? *mulai promosi*
thetranquilizer wrote on Mar 6, '06
aah kamu *tersipu malu*
tapi dalam berkebun di kebun kata itu kan gak selalu bahasa indonesia yang baik dan benar...bahkan ada jg yang menggunakan bahasa sehari2x...hehehe...vreda dah join belom? *mulai promosi*
Gak masalah...kok Ga..bagi gue yah...
Tapi gak tau deh kalau tiba - tiba ada kata secara..hmm sayang aja..hihihi..karena setahu gue kebun kata dibentuk untuk melestarikan bahasa indonesia- yang baku atau sehari - hari dengan benar..heheheh...

Ajak dong kita..*wink - wink*
thedyingsirens wrote on Mar 7, '06
Gak masalah...kok Ga..bagi gue yah...
Tapi gak tau deh kalau tiba - tiba ada kata secara..hmm sayang aja..hihihi..karena setahu gue kebun kata dibentuk untuk melestarikan bahasa indonesia- yang baku atau sehari - hari dengan benar..heheheh...

Ajak dong kita..*wink - wink*
sebenarnya gak menutup kemungkinan ada yang menulis dengan kata itu sih...tapi sampai sekarang belum ada...karena di bunga matahari itu sendiri cuma melarang dalam bahasa lain, tapi tidak dilarang kalau misalnya dengan bahasa setengah2x,(puisinnya kata2xnya campuran bahasa indonesia dan bahasa inggris), dan puisi itu personal, jadi terserah si pembuat itu mau bikin puisi yang bagaimana...sama2x belajar disitu..dgn kata lain belajar menghargai perbedaan cara membuat puisi, jadi gak bisa dibilang..puisi lo salah tuh gak bener..yang bener tuh ginih..blablabla..gak ada yang kayak gituh..kalaupun ada mungkin mereply dengan puisi lagi, atau mengomentari puisinya...tapi tidak menghakimi dengan mengatakan puisi itu salah atau benar...gituh vred...mudah2xan informasi ini berguna bagi nusa dan bangsa...hehehehe
thetranquilizer wrote on Mar 7, '06
sebenarnya gak menutup kemungkinan ada yang menulis dengan kata itu sih...tapi sampai sekarang belum ada...karena di bunga matahari itu sendiri cuma melarang dalam bahasa lain, tapi tidak dilarang kalau misalnya dengan bahasa setengah2x,(puisinnya kata2xnya campuran bahasa indonesia dan bahasa inggris), dan puisi itu personal, jadi terserah si pembuat itu mau bikin puisi yang bagaimana...sama2x belajar disitu..dgn kata lain belajar menghargai perbedaan cara membuat puisi, jadi gak bisa dibilang..puisi lo salah tuh gak bener..yang bener tuh ginih..blablabla..gak ada yang kayak gituh..kalaupun ada mungkin mereply dengan puisi lagi, atau mengomentari puisinya...tapi tidak menghakimi dengan mengatakan puisi itu salah atau benar...gituh vred...mudah2xan informasi ini berguna bagi nusa dan bangsa...hehehehe
Ya ...benar..puisi itu personal....kalau yang lain menikmati ya syukur, kalau enggak..ya terserah..gitu kan? .....
thedyingsirens wrote on Mar 7, '06
Ya ...benar..puisi itu personal....kalau yang lain menikmati ya syukur, kalau enggak..ya terserah..gitu kan? .....
yup betul...jadi di buma tak bisa melarang kalau ada puisi yang memakai kata 'secara'..karena itu adalah gaya bahasa zaman ini...kira2x begitar...hehehe..begitu maksudnya..hehehe
thetranquilizer wrote on Mar 7, '06
yup betul...jadi di buma tak bisa melarang kalau ada puisi yang memakai kata 'secara'..karena itu adalah gaya bahasa zaman ini...kira2x begitar...hehehe..begitu maksudnya..hehehe
heheheh..heheheheh...heheheheh..*wink wink*
richoz wrote on Jun 15, '06
setuju banget!

euh
telat yak

*kabur*
thetranquilizer wrote on Jun 15, '06
richoz said
setuju banget!

euh
telat yak

*kabur*
gak papa..yang penting...turut mendukung...:))
csukaryo wrote on Jun 28, '06
Biar telat, gue cuma mau bilang kalo gue setuju bgt dg elo, mbak :-) And believe it or not, gue sendiri juga udah bbrp kali ngeributin soal "secara" ini; entah by individual, lempar ke milis, etc.etc..

Another example: Melly Goeslaw, I'm Falling in Love. Lagunya bagus, liriknya keren, tapi kata "secara" nya asli bikin ilfil, hehe..
thetranquilizer wrote on Jun 28, '06
Biar telat, gue cuma mau bilang kalo gue setuju bgt dg elo, mbak :-) And believe it or not, gue sendiri juga udah bbrp kali ngeributin soal "secara" ini; entah by individual, lempar ke milis, etc.etc..

Another example: Melly Goeslaw, I'm Falling in Love. Lagunya bagus, liriknya keren, tapi kata "secara" nya asli bikin ilfil, hehe..
Terima kasih atas dukungannya...
hmmm..menurut gue...salah kaprah dalam pengunaan kata secara ini, menandakan "rendahnya intelektualitas dan kepekaan bahasa seseorang"
setuju kan?
csukaryo wrote on Jun 28, '06
salah kaprah dalam pengunaan kata secara ini, menandakan "rendahnya intelektualitas dan kepekaan bahasa seseorang
..umm, if I may, gue cenderung lebih tertarik buat bilang bhw ini masalah ketidak-PD-an orang dlm menyikapi tren yg tengah marak..:-) Maksud gue, kalo emang tren nya salah, mbok ya bilang & bersikap, gitu lho. Jangan lantas cuma bs membeo aja; apalagi bilasanya alasannya hy krn nggak ingin dianggap ketinggalan zaman, ato "nggak gaul". Pity.

Tp rada susah jg kali yaa.. krn ini toh, bhs percakapan; dlm konteks "slang", pula. Jadi harusnya apapun yg nggak mungkin, akan lantas mjd mungkin. Or is it?

Lain soal bila kesalahpahaman itu telah mjd bahasa resmi, apalagi bila sampai tertulis di media (contoh gampang, "aktiVitas" yg sering ditulis mjd "aktiPitas". Hehhh..nyebelin banget kalo sampe nemu kata itu - yg sayangnya, sangat-sangat sering bertebaran; bahkan di media mainstream spt Kompas sekalipun (IMHO, media mainstream yg berbahasa dg bagus hanyalah Tempo).

Btw, I like your articles and the way you write..
Come write some more.. :-)
thetranquilizer wrote on Jun 28, '06
..umm, if I may, gue cenderung lebih tertarik buat bilang bhw ini masalah ketidak-PD-an orang dlm menyikapi tren yg tengah marak..:-) Maksud gue, kalo emang tren nya salah, mbok ya bilang & bersikap, gitu lho. Jangan lantas cuma bs membeo aja; apalagi bilasanya alasannya hy krn nggak ingin dianggap ketinggalan zaman, ato "nggak gaul". Pity.

Tp rada susah jg kali yaa.. krn ini toh, bhs percakapan; dlm konteks "slang", pula. Jadi harusnya apapun yg nggak mungkin, akan lantas mjd mungkin. Or is it?

Lain soal bila kesalahpahaman itu telah mjd bahasa resmi, apalagi bila sampai tertulis di media (contoh gampang, "aktiVitas" yg sering ditulis mjd "aktiPitas". Hehhh..nyebelin banget kalo sampe nemu kata itu - yg sayangnya, sangat-sangat sering bertebaran; bahkan di media mainstream spt Kompas sekalipun (IMHO, media mainstream yg berbahasa dg bagus hanyalah Tempo).

Btw, I like your articles and the way you write..
Come write some more.. :-)
Setuju!!!
anyway...thanks...:)
rotacse wrote on Feb 16
Kalo dalam informal ya gak masalah sebenernya, meski gw sangat membenci hal ini. Terutama karena para plastic girl dan lelaki banci tampil di sekolah gw yang baca teenlit aja nggak pernah, sering memakai ke"anjing"an ini.

Kalau dalam formal, waduh, gw bener-bener serasa ingin menampar mulut orang yang melakukan tindakan kriminalitas-sastrais ini.
thetranquilizer wrote on Feb 17
rotacse said
Kalo dalam informal ya gak masalah sebenernya, meski gw sangat membenci hal ini. Terutama karena para plastic girl dan lelaki banci tampil di sekolah gw yang baca teenlit aja nggak pernah, sering memakai ke"anjing"an ini.

Kalau dalam formal, waduh, gw bener-bener serasa ingin menampar mulut orang yang melakukan tindakan kriminalitas-sastrais ini.
heheheheh...
terus lindungi bahasa tercinta kita ini :-)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help