Gue lagi baca - baca skenario sambil minum kopi mix, saat tiba - tiba mobile phone gue berbunyi. Ternyata dari ******. Temangue ini sedang bingung. Apa yang membuat dia bingung? Begini ceritanya:
Dahulu di kala teman gue ini masih mencari - cari arti kebahagiaan. Ia tertambat pada sebuah situasi di mana perasaan (seakan - akan) cinta menghampirinya dan seseorang. Awalnya dari keterlibatan teman gue ini dalam sebuah proyek yang akhirnya mempertemukan dia dan selingkuhannya ini (sudah berkeluarga). Oh ya gue lupa bilang, temen gue ini juga udah berkeluarga.
Selingkuhan teman gue ini bercerita bahwa dia telah dikhianati oleh pasangannya. Hmm kita sebut aja si selingkuhan temen gue ini dengan singa yah. Pasangan si singa ini ternyata berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri. Singa mengetahui hal ini secara tidak sengaja lewat email yang dikirimkan pasangan si singa ke kakak kandungnya (istri kakak iparnya). Saat itu singa begitu sedih dan terpukul. Dia tidak habis pikir mengapa pasangannya bisa seperti itu, padahal mereka sudah punya anak dan cinta yang selalu diyakini singa. Singa begitu hancur lebur, dia tidak pernah percaya akan cinta lagi.
PERTEMUAN SINGA DAN TEMAN GUE
Kata temen gue, saat dia melihat singa untuk pertama kalinya, dia seperti sudah mengenalnya. Entah di mana. Ternyata singa juga berpikiran yang sama. Kata singa, ia jatuh cinta saat pertama kali melihat teman gue. Intensitas pertemuan pada pengerjaan proyek inilah yang membuat hubungan mereka semakin dekat.
Suatu saat, singa mengajak teman gue untuk pergi ke sebuah tempat yang jauh dari tempat mereka berada. Teman gue mengiyakan. Teman gue bilang, entar gue ajak teman - teman gue juga yah (termasuk gue kali yah). Tapi kata singa, "gak kita berdua aja". Teman gue sedikit kaget, tapi dia cuek aja dan tetap mengiyakan. Sebelum akhirnya mereka benar - benar berangkat ke tempat tersebut. Teman gue dan si singa bertemu di sebuah tempat yang begitu romantis jauh mendekati awan.
Teman gue pun bertanya; "kenapa kok kamu mengajak saya pergi ke tempat itu hanya berdua, kita berdua..."
Dengan takut - takut singa mengakui kalau dia tertarik pada teman gue (catat: dia gak bilang cinta atau sayang. Soalnya kan si singa udah gak percaya cinta :) heheheh)
Teman gue sedikit bingung. Apakah dia juga benar - benar tertarik sama si singa atau enggak yah. Tapi rasanya si singa memang bisa mengisi luang kosong atas kehausan teman gue akan kasih sayang semu. Mereka lambat laun lebih dekat. Frekwensi telpon semakin bertambah.
Hingga pada suatu siang di hari dingin, singa mengajak teman gue untuk makan siang di sebuah tempat penuh keromantisan ala cinta klasik antara raja dan permaisurinya. Ternyata tempat tersebut tutup. Teman gue sudah sampai ke tempat itu, sedang singa masih dalam perjalanannya. Teman gue pun sedikit kesal begitu juga si singa. Mereka berdua akhirnya memutuskanuntuk mengubah destinasi ke tempat yang lebih "privat". Mereka menentukan titik pertemuan selanjutnya. Bertemulah mereka di tempat penuh privasi ini.
Dari hanya saling pandang, kesalahtingakahan, jantung yang berdegup kencang dan mungkin rasa bersalah yang terselip, singa akhirnya mencium bibir teman gue. Sekecup dua kecup, teman gue sudah berada di dekat si singa. Mereka berpelukan tanpa suara. Satu sama lain merasakan kehangatan yang sepertinya "familiar".
Tunggu - tunggu sebentar, jangan - jangan mereka pernah bertemu atau bahkan menjadi pasangan cinta di masa lalau. Aduh - aduh pasti karena gue kepengaruh buku Only Love is Real karangan Brian Weiss.
Anyway. Mereka tidak melakukan hubungan "ehm - ehm", walaupun nyerempet- nyerempet sih katanya. hehehehhe,....
Setelah hari indah itu. Singa berusaha menghubungi teman gue. Teman gue merasa sedikit bersalah pada keluarga dan tentu aja pasangannya. Mereka akhirnya menutup hubungan ini dengan tidak saling mengontak. Mereka pun sudah tidak berhubungan kerja lagi. Singkatnya tidak ada satupun hal yang bisa merekatkan mereka lagi.
Beberapa tahun berlalu. Teman gue pindah ke kantor baru. Beberapa bulan berselang, di saat perasaan atau kerinduannya pada si singa sudah berangsur - angsur hilang. Petir tiba - tiba menyambar.
Di pagi yang cerah teman gue baru saja menginjakan kakinya di kantornya. Ia berjalan menuju ruangannya, tiba - tiba matanya tertumbuk dengans seserang yang berjalan memunggunginya. Sepertinya gue kenal, kata teman gue. Tiba - tiba orang itu berbalik.
"OH MY GOD, SINGA!" Pekik Teman gue dalam hati. Teman gue berusaha tersenyum. Singa tersenyum. Teman gue pun berusaha menenangkan dirinya. Sambil minum dia duduk di ruangannya. Tiba - tiba SINGA menghampiri ruangan teman gue dan bilang "IT'S SO GOOD TO SEE YOU AGAIN!...
DHUARRRRR...teman gue disambar petir lagi dan akhirnya menelpon gue.
Kata - kata pertama teman gue "You know what?" Gue jawab: What?" Dia tanya lagi "You know what?" gue jawab lagi: What?" . Pertanyaan ini diucapkan berkali - kali dengan gue yang juga memberikan jawaban yang sama. Hehehehhehe...mungkin teman gue ini panik kali ye..
Sekarang pertanyaannya teman gue:
1. Gue harus gimana yah?
2. Duh jadi bingung nih, Gue harus gimana yah?
3. Kenapa dia mesti kerja di sini juga sih, Gue harus gimana yah?
Hmm, teman gue ini sedang panik kayaknya. Soalnya kalau dianalisa pola ketiga pertanyaannya sama. "Gue harus gimana yah?"
Gue berusaha menenangkan dia, gue bilang udah cuek aja. Bersikap biasa - biasa aja, elu harus tahu elu maunya apa. Mau tetap membina hubungan ini, sementara kalian sama - sama sudah tahu ujungnya mau ke mana dan terutama kalian dah berkeluarga. (cieh gue sok banget ya nasehatinnya)...
Dan ingat, there's no teman tapi mesra....gue nambahin.Gue bilang: "Ingat film unfaithful, ingat derailed, ingat keluarga kalian...
Reaksi teman gue hanya diam aja mendengarkan.
Klik. telepon ditutup. Gue masih terbengong - bengong. Gue jadi mikir, "Maybe life is so dull, that everybody needs spark?" and Is that true that only love is real?"